Sunday, 19 June 2016

MISTERI JAKA SUKUN DAN ASAL-USUL TERJADINYA DESA TEMPEL, DESA CEMPEH, DESA LANGUT, DESA PENGAUBAN DAN DESA TELAGASARI

Bermula dari salah satu nama tokoh sejarah Putra Telaga, awal mula Desa Tempel dimulai yang bernama Jaka Sukun, konon nama tokoh tersebut dimiliki seorang tokoh Pemuda yang sakti mandraguna “Oratedas papak paluane pande sisane gurinda“ karena kedigjayaannya beliau sangat disegani pada masa penjajahan Belanda (VOC). Jaka Sukun tidak mau berkompromi dengan penjajah, karena tidak bisa diajak kerja sama dengan VOC , terjadilah perlawanan dengan VOC karena alat Modern yang digunakan oleh VOC, beliau menghindar kearah Utara karena beliau merasa terpojok beliau mengeluarkan senjata sakti yang dipunyai bernama Cemeti Rukmin (Selendang) sekali lagi karena persenjataan yang dipunyai VOC lebih Canggih dalam artian tidak bisa melawan Bedil atau peluru, ini adalah awal mula blok Cemeti (Cempeh Sekarang) karena sebab pelarian Jaka Sukun . Jaka Sukun masih berlari kearah utara timur hingga berhenti di sebuah kebun petani Cabe, karena petani merasa takut terhadap VOC sehingga petani tersebut melarang untuk beristirahat di kebunnya hingga Jaka Sukun merasa kalau beliau merasa melamun, yang tidak lain ini adalah awal mula blok Ceplik (Desa Larangan ) dan Desa Langut karena Jaka Sukun merasa melamun (Langut). Jaka Sukun terus belari kearah selatan dan berhenti di bawah rindangnya pohon Baujan dan ini adalah awal mula Desa Pengauban berdiri, karena merasa terdesak sebagai asli putra Telaga (Majalengka) beliau mengeluarkan senjata Tombak yang sekali lagi tidak mampu melawan VOC malah karena masih berlari. Tak terasa Tombak yang dibawa terjatuh, ini awal mula terjadinya Desa Telagasari, Jaka Sukun terus berlari ke arah barat dan mengeluarkan ajian dari tangannya keluar berupa kabut sehingga kelihatan seperti lautan terlihat dari kejauhan sehingga VOC merasa kehilangangan jejak, VOC merasa melamun yang dalam bahasa jawa berarti mangu-mangu ini adalah awal mula blok Tlangu, hingga Jaka sukun pun merasa kerasan tinggal di pedukuhan tersebut dan dilindungi oleh Ki Buyut Jatem, dan dikasih oleh Ki Buyut Jatem untuk areal bercocok tanam disebelah timur rumah beliau. Itulah awal dari segala Nenek Moyang Desa Tempel karena Jaka Sukun merasa Sukses, Kerasan, Nempel atau hingga menjadi Desa Tempel sampai sekarang ini. (Makam Jaka Sukun berada di pemakaman Sukun sekarang).

SEJARAH DESA NUNUK KECAMATAN LELEA

Dijaman dahulu kala di sebuah blok yang bernama Sumurgede yang konon memang terdapat sebuah sumur yang besar,ada seorang gadis yang cantik yang bernama Nyi Mas Nuriyah putri dari Ki Gedeng Sumurgede. Kecantikan Nyi Mas Nuriyah terkenal dimana-mana sehingga banyak pemuda yang melamar namun selalu ditolak karena tidak sesuai kriteria dan sebagai seorang wanita Nyi Mas Nuriyah menghendaki suami yang lebih tinggi ilmu dan kesaktiannya sebab wanita jika sudah bersuami maka ia akan patuh dan menurut pada petatah petitih sang suami bayangkan jika ilmunya lebih bodoh dari sang istri maka ia tak mau menjadi istri yang durhaka.. Akhirnya Ki Ageng Sumurgede mengumumkan sayembara memilih yang terbaik dari yang baik dan memenuhi kriteria yang dimaksud. Datanglah ksatria dari Cirebon untuk mengikuti sayembara, dia bernama Pangeran Puronegoro. Lalu bertandinglah mereka antara Pangeran Puronegoro dan Nyi Mas Nuriyah, mereka sama sakti dan digjaya berhari mereka bertanding namun tidak ada yang kalah hingga suatu ketika karena serunya perkelahian kebaya,selendang dan kai tapihnya Nyi Mas Nuriyah tertarik dan terlepas makatampaklah tubuh Nyi Mas Nuriyah bugil dan kelihatan organ kewanitaanya atau bahasa setempat disebut Nunuk. selanjutnya dialih ke bahasa Indramayu : jare wong sing nonton sayembarane “NUNUKane katon.... NUNUKane katon... NUNUKane katon”.(Nonoke katon) isin wirange Nyi Mas Nuriyah sampe mlayu nemuni Gurune Kiai Sangkan. Setekane Raden Puronegoro ning adepane Kiai Sangkan, jare Kiai Sangkane “ tentune Raden wis ngerti konsekuensine, yen gawe aib lan ngemek langsung sing dudu muhrime pada karone zina, dirajam sampe mati sebagai ganti hukumane”maklum syareat islam pada waktu kuwen bener bener kanggo panutan. Akhire Raden Puronegoro, amuja semedi marang Gusti Yang Murbeng Dumadi kelawan sedakep sinuku tunggal, sedakep tangane sinuku sikile tunggal dadi sewiji, mengheningkan cipta, rasa lan karsane pada Sang Pencipta, pasrah jiwa lan raga sebagai penebus dosa, ditutup sekabeh amalan uripe karo kalimat thayyibah “laa ilaaha illallaah”, akhir riwayat Raden Puronegoro, ruh e metu sing ragane sebagai konsekuensi prasetia sebagai kesatria. Telung dina sewise kejadian mau, udan gede angin puting beliung mengguyur Pecantilan Sumur Gede, lan ora ana sing ngira Pecantilan Sumur Gede mau sampe kerendem banjir, sewise udane reda kedeleng jasad kang NAMBAK ning saluran banyu,sewise dideleng jasad mau ora salah yaiku Raden Puronegoro, mungkin karna kubure mbleduk ragane kenyut lan nambak ning saluran banyu mau. akhire jasad Raden Poronegoro dikubur maning. Lawas puluhan tahun jamane Pecantilan Sumur Gede berubah aran dadi PEDUKUHAN NUNUK (sekien Desa NUNUK)lan kuburan Raden Puronegoro diarani KI BUYUT TAMBAK. Catatan :Sampe sekien peninggalan Ki Ageng Sumur Gede, masih ana yaiku berupa SITUS SUMUR GEDE,,tepate ning Blok Kulon, uga keturunane Nyi Mas Nuriyah,,Seblah Lor e Makam Ki Buyut Tambak,, setiap gal taun selalu diadakan Unjungan ning tempat kuwen,,

SEJARAH DESA LEUWIGEDE KECAMATAN WIDASARI

Sahdan dijaman dahulu kala di sebuah kerajaan negeri Sumedang Larang, Rajanya memerintahkan seseorang ajudannya yang bernama Ki Darpa untuk melihat sebuah wilayahnya yang berada diujung Timur Laut di daerah Tamansari Kecamatan Lelea untuk membuat sebuah pedukuhan. Konon Lelea jaman dulu kala adalah masih berada di dalam wilayah territorial Kerajaan Sumedang sampai dengan desa Kasmaran. Sang Raja hanya memberikan sebuah ciri di sana ada sebuah Leuwi(balong/danau) yang besar yang airnya berwarna Hijau. Akhirnya berangkatlah Ki Darpa ditemani seorang saudaranya menyusuri sungai Cimanuk. Dikisahkan Ki darpa berangkat menyusuri sungai Cimanuk dengan mengendarai sebuah Bareng atau sebuah gong kecil sedangkan Saudarannya berangkat mengendarai Gong besar. Setelah melalui sekian banyak rintangan dalam penyusurannya termasuk menemui sekian banyak Leuwi yang ada Ki Darpa merasakan belum menemui sebuah Leuwiyang cukup besar seperti yang diceritakan Sang Raja, termasuk ketika Ia menemukan sebuah Leuwi di sebuah dearah yang sekarang bernama Desa Ujungpendokjaya, Ia merasa bahwa Leuwi tersebut tidak cukup besar. Akhirnya Ia meneruskan perjalanannya menyusuri sungai Cimanuk, dan tidaklah berapa lama Ki Darpa menemukan sebuah Leuwi yang cukup besar yang menjadi sebuah pusaran air dari sebuah tikungan Sungai Cimanuk yang sekarang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Balong Bugel. Akhirnya Ki Darpa memutuskan bahwa Leuwi inilah mungkin yang dimaksud oleh Sang Raja. Kemudian Ki Darpa membuat sebuah pedukuhan yang mengambil lokasi disebelah Barat dari Leuwi tersebut. Konon di sebelah Timur dari Leuwi tersebut juga telah ada mendiami sekelompok Santri dari negeri Bagelen berjumlah Sembilan orang yang sama bermukim disana membuat pedukuhan yang kini diyakini sebagai Buyut Bojongjati. Lama kelamaan pedukuhan ini menjadi kian ramai didiami orang karena terkenal daerahnya yang sangat subur, makmur, gemah ripah lohjinawi karena sumber airnya yang mudah dari Leuwi tersebut, tetapi tetap saja pedukuhan ini belumlah memiliki nama. Akhirnya keramaian pedukuhan ini terdengar sampai ke telinga Adipati Dermayu. Sang Adipati akhirnya memerintahkan beberapa Ponggawa untuk memeriksa daerah Pedukuhan tersebut. Sekaligus untuk menata secara administrasi dengan memberikan nama daerah dan memilih seorang pemimpinnya untuk menjadi Kuwu di sana. Dengan bertanya kesana dan kemari akhirnya sampailah para Ponggawa Adipati tersebut di sebelah Timur dari Leuwi tersebut dan menemui Sembilan Santri dari Bagelen. Setelah bernegosiasi maka Pimpinan Ponggawa tersebut meminta salah seorang dari para Santri tersebut agar mau dijadikan menjadi seorang pemimpin di daerah tersebut. Tetapi semua Santri tidak ada yang mau untuk menjadi pemimpin yang membuat para Ponggawa menjadi kesulitan untuk memutuskan. Akhirnya Pimpinan Ponggawa bertanya kepada Sembilan Santri tersebut, “Adakah orang lain selain kalian yang tinggal didaerah ini?”. Salah seorangSantri menjawab bahwa di sebelah Barat Leuwiini masih ada seorang yang tinggal di sana. Maka menyebranglah Para Ponggawa tersebut ke sebelah Barat Leuwi. Dan disana ia bertemu dengan Ki Darpa. Sang Ponggawa bertanya tentang asal usul Ki Darpa. Dan Ki Darpa pun mencertakan dari awal hingga akhir tentang sejarah Ia hingga tinggal di daerah Leuwi tersebut. Atas dasar cerita Ki Darpa tersebut Para Ponggawa sangat maklum dan menunjukan daerah sebenarnya bahwa yang Leuwi yang dimaksudkan bukan ini tetapi di daerah Taman Sari Lelea. Tetapi dikarenakan Ki Darpa sudah terlanjur betah Ia memohon untuk tetap diijinkan tinggal di daerah itu dan Ia tidak akan kembali lagi ke Sumedang. Dan Akhirnya oleh Ponggawa tersebut diijinkan sekaligus menunjuk Ki Darpa sebagai Kuwu di daerah itu. Terinspirasi dari cerita Ki Darpa bahwa Ia diperintahkan Raja Sumedang untuk mencari daerah denganLeuwinya yang besar, maka akhirnya pedukuhan itu diberi nama Leuwigede

LEGENDA DESA LANGGEN KECAMATAN LOHBENER

Anda pernah mendengar Buyut Anjing Jangkung ya konon katanya asalnya dari Anjing dan Jangkung artinya anjing yang jangkung (tinggi). Menurut ceriteranya anjing ini kepunyaan raja Sumedang. Mengapa nama tersebut terkenal di daerah Indramayu? Pada jaman dahulu raja Dermayu sedang berusaha memperluas kekuasaanya. Ketika itu diketemukan suatu cara ialah dengan jalan mengawinkan puteri raja dermayu dengan raja Sumedang karena waktu itu raja Sumedang belum beristri. Hal mana merupakan suatu kesukaran bagi baginda raja Dermayu, karena beliau belum mempunyai puteri. Tetapi walaupun demikian hal ini dapat diatasi dengan jalan menciptakan adik dan raja menjadi seorang putri. Setelah itu mereka bersama-sama dengan bawahnya pura-pura menjadi penari topeng. Mereka berangkat ke Sumedang. Dengan rasa bimbang sampailah mereka di daerah Sumedang. Di sebuah kampung dimulailah petunjuk topeng itu. Yang dijadikan pelaku adalah putri yang diciptakan tadi. Pada waktu itu raja Sumedang tidak tahu tentang perbuatan raja Dermayu, tetapi lama kelamaan berita itu sampai ke telinga raja. Sang raja tercengang dan menyuruh patihnya untuk memanggil penari tadi ke istana. Ketika penari datang terlihatlah penari itu sangat cantik, dan akhirnya timbullah rasa cinta raja kepadanya. Kemudian raja mengirim utusan untuk menanyakan kepada putri tadi. Dengan rasa gembira apa yang ditanyakan utusan itu jawabnya. Setelah itu apa yang di katakan oleh putri tadi disampaikan kepada baginda raja dan baginda pun merasa senang. Maka disuruhnya patih untuk melamar sang putri. Kedatangan patih dari Sumedang diterima dengan baik oleh baginda raja Dermayu, dan lamaran dari raja Sumedang diterimanya. Lamaran ini disertai dengan perjanjian dari raja Sumedang untuk menyerahkan sebagian daerahnya kepada raja Dermayu. Hal ini dikerjakan pula oleh raja Sumedang demi cintanya kepada putri tersebut. Keesokan harinya dirayakan pernikahan antara raja Sumedang dengan putri Dermayu. Kedua suami istri itu baik dan rukun, tetapi apakah yang terjadi kemudian? Selang beberapa hari setelah perkawinan berlangsung baginda selalu melamun. Hal ini disebabkan karena istrinya telah berubah sifat. Setelah diselidiki ternyata ia bukan seorang putri yang sebenarnya. Maka terjadilah perselisihan. Dikejar-kejarnya putri tadi. Akhirnya putri itu tertangkap dan berubah menjadi seorang pemuda. Raja Sumedang sangat marah melihat kejadian itu, maka disuruhnya patih untuk meminta daerahnya kembali. Tetapi hal ini ditolak oleh raja Dermayu. Akhirnya terjadilah peperangan antara kedua raja tersebut. Karena marahnya maka raja Sumedang menyuruh patihnya mengeluarkan binatang yang dianggap keramat. Binatang ini kelak menimbulkan suatu peristiwa. Binatang itu bernama Anjing Jangkung. Badanya tinggi dan sakti. Maka dikeluarkanlah anjing itu agar ikut berperang. Setelah sampai di arena peperangan maka mulailah anjing itu melancarkan serangan. Anjing tadi sangat ditakuti oleh pihak Dermayu, tetapi berkat kesaktian Ki Gede Penganjang dengan senjatanya yang bernama “Sapu Jagat”, anjing tadi terlempar jauh dan jatuh disebuah “Langenan” yang artinya tanah yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanah yang ada disekitarnya. Tempat itu sampai sekarang disebut Langgen, sedang tempat dimana jatuhnya binatang tadi dipergunakan untuk kuburan dengan nama Ki Buyut Anjing Jangkung. Tempat tersebut sampai sekarang masih diziarai masyarakat.

Legenda : SIAPAKAH KI SIDUM YANG MENUNJUKAN WIRALODRA ARAH SUNGAI CIMANUK?

Ki Sidum atau sebutan lainnya Bagus Sidum adalah putra Kiai Waridah, yang berkedudukan di Cisambeng, sedangkan Kiai Waridah putra Panembahan Paseh II, Panembahan Paseh II putra Panembahan Paseh I.Panembahan Paseh I adalah putra Mesir, dengan demikian antara Sultan Cirebon dengan Kiai Waridah masih ada hubungan kekeluargaan. Kiai Waridah pernah diutus Sultan Cirebon untuk memadamkan pemberontakan dari Hutan Roban. Kiai Waridah dapat menjalankan perintah itu dengan baik. Pemberontakan dari Hutan Roban dapat dipadamkan. Mulai saat itu Sultan Cirebon tahu kemampuan Kiai Waridah. Sebagai tanda jasa Kiai Waridah diberi gelar Pangeran Tambak Baya oleh Sultan Cirebon, serta diberi kekuasaan untuk mendirikan padepokan di Cisambeng. Ketika itu Cisambeng merupakan wilayah Cirebon di ujung barat, sehingga berdirinya padepokan di Cisambeng merupakan benteng Cirebon dibagian barat. Demikianlah Padepokan Cisambeng kian hari kian maju banyak para pemuda yang datang berguru ke padepokan tersebut. Sebagai seorang putra Padepokan, Bagus Sidum banyak mempelajari ilmu lahir maupun batin, agama maupun drigama. Ayahnya adalah mantan Senopati Cirebon yang sanggup mengalahkan pemberontak dari Hutan Roban, karena itu Bagus Sidum banyak mempelajari ilmu keprajuritan dari padanya.Sekarang Kiai Waridah seorang pemimpin padepokan, karena itu Bagus Sidum pun banyak mempelajari ilmu agama serta tuntunan hidup dari ayahnya.Ketinggian ilmu lahirnya menyebabkan Bagus Sidum percaya terhadap kemampuan diri, sedang kedalaman ilmu agamanya menimbulkan hasrat untuk mengamalkan pengetahuan demi menolong sesamanya.Untuk memenuhi hasratnya itu, dan karena Padepokan Cisambeng sangat terbatas, sehingga Bagus Sidum ingin berkelana menjelajah negeri menelusuri tanah Jawa. Kiai Waridah maklum apa yang terkandung di dalam hati putranya, karena itu diijinkannya Bagus Sidum pergi berkelana. Pagi pagi menjelang fajar pergilah Bagus Sidum berkelana menuju ke daerah barat Cisambeng. Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan. Hutan dan tegalan telah ia jelajahi, banyak sungai yang ia seberangi, aral dan rintangan telah ia atasi. Akhirnya sampailah ke daerah Banten. Bagus Sidum telah sampai ke suatu daerah yang disebut Tegalpapak. Tegalpapak adalah suatu tempat yang merupakan arena untuk menyabung ayam. Jagoan dari segala penjuru Banten sering berkumpul di sana. Mereka menyabung ayam. Bagus Sidum membuka lahan untuk berladang, ia pun mulai bertanam palawija, tetapi apabila telah berbuah, Bagus Sidum tidak pernah menjual hasilnya, siapapun yang membutuhkan akan diberikan dengan cuma-cuma. Sewaktu-waktu Bagus Sidum pun turut menyambung ayam melawan ayam para jagoan Banten. Anehnya, ayam Bagus Sidum tak pernah kalah, tetapi uang hasil taruhannya selalu ia kembalikan kepada lawannya. Pada suatu hari berkatalah salah seorang jagoan Banten : “Hai ! Anak muda, siapa namamu? Mengapa kamu tidak pernah menerima hasil taruhan lawanmu yang kalah itu ? “Namaku Sidum, uang itu bukan hasil jerih payahku, tetapi hasil usaha kalian, saya hanya sekedar mencoba ayamku” jawab Bagus Sidum “Saya dengar kamu tidak menerima uang pembayaran hasil kebunmu, Apakah kamu tidak membutuhkan uang ?” “Sebagai manusia saya pun mempunyai kebutuhan untuk keperluan hidup, tetapi hasil kebunku sangat banyak melebihi kebutuhanku sendiri. Oleh karena itu, saya berterima kasih apabila orang lain membutuhkannya”. Mendengar pengakuan Bagus Sidum yang tulus itu, para pecandu adu ayam pun mulai menghentikan kegemarannya. Mereka sadar bahwa usahanya itu tidak sah untuk mendapatkan uang melalui penyiksaan makhluk lain. Selain berkebun palawija, Bagus Sidum pun sering mengobati orang sakit, sehingga kebaikan Bagus Sidum ini tersebar sampai ke pelosok desa dan menjadi buah bibir masyarakat di sana. Ketika itu, Permaisuri Sultan Sabakingking sedang sakit. Banyak dukun yang telah mengobati, tetapi penyakit sang Permaisuri belum juga sembuh. Akhirnya Sultan mendengar berita, bahwa ada pemuda perantau dari Cirebon yang sering mengobati orang sakit. Dipanggillah Bagus Sidum ke istana. Setelah Bagus Sidum sampai ke istana, berkatalah Sultan Sabakingkin : “Siapa namam, nak ? dan darimana asalmu ?” “Hamba bernama Sidum!, berasal dari Cisambeng Cirebon” “Saya dengar kamu sering mengobati orang sakit! Betulkah itu?" “Pengetahuan hamba tentang obat-obatan sangat kurang, gusti! Andai kata yang saya obati itu sembuh, kesembuhannya hanya karena ridho Allah SWT semata, gusti!” jawab Bagus Sidum “Istriku sakit payah, nak! Tolong obati dia, mudah-mudahan jalan kesembuhannya berasal dari kamu” pinta sang Pangeran Bagus Sidum mengamati istri Sultan yang sedang terbaring diperaduannya. Kemudian, meracik dedaunan serta akar pepohonan untuk dijadikan ramuan obat. Setelah itu, Bagus Sidum memohon kepada Yang Maha Kuasa agar terkabul yang menjadi maksudnya. Dengan ijin Allah SWT permohonan Bagus Sidum terkabul, kesehatan permaisuri Sultan Sabakingking berangsur-angsur membaik dan sembuh. Bukan main gembira hati Sultan, serta memuji keahlian Bagus Sidum dalam mengobati orang sakit. Tetapi, timbullah pertanyaan dalam hati Sultan, siapa sebenarnya Sidum itu. Karena itu, bertanyalah Sultan kepada Bagus Sidum : “Nak! Coba jelaskan asal usulmu, siapa nama ayah serta kakekmu?” Mendengar pertanyaan Sultan, Bagus Sidum terkejut dan bingung. Akan berdusta bukan sifat kesatria, berkata jujur penyamaran akan terbuka. Tetapi, Bagus Sidum akhirnya menjelaskan keadaan sebenarnya. Kini Sultan Sabakingking lah yang kaget, tidak disangka bahwa pemuda dihadapannya itu masih saudaranya juga. Sebagai tanda terima kasih, Bagus Sidum dianugrahi sebilah keris bernama Kiai Arab dan seperangkat jubah, serta dinikahkan dengan putrinya. Konon kabarnya, hasil dari pernikahan dengan putri Sultan Sabakingking itu dikaruniai seorang putra yang kelak bergelar Demang Secayuda. Kelak Bagus Sidum mempunyai istri lagi serta dikaruniai seorang putra pula yang bernama Bagus Sander, yang bergelar Demang Wirayuda. Bagus Sidum sudah merasa cukup mengembara di daerah Banten, sehingga pada suatu hari Bagus Sidum mohon ijin kepada mertuanya untuk pulang ke Cisambeng. Dalam perjalanan pulang, Bagus Sidum mengalami beberapa kejadian. Tetapi, Bagus Sidum tetap berusaha untuk beramal baik bagi sesamanya. Setelah beberapa hari, sampailah Bagus Sidum ke daerah Pagirikan (Indramayu_red), Bagus Sidum ma’fun bahwa kelak akan lewat seorang pemuda yang sedang mencari muara Cimanuk. Karena itu Bagus Sidum memulai kembali penyamarannya. Dia seperti kakek-kakek berkebun palawija disana. Dia ingin membantu pemuda tersebut, sebab Bagus Sidum sudah mendapat firasat bahwa pemuda itulah yang akan mendirikan sebuah negeri di daerah tersebut. Kiranya benar juga firasat Bagus Sidum, karena setelah beberapa minggu kemudian lewatlah Pemuda Bagelen yaitu Pangeran Wiralodra sedang mencari Muara Cimanuk. Muara Cimanuk telah terlewati, tetapi Wiralodra belum menemukannya. Wiralodra bingung, Dia tersesat di daerah Pagirikan. Tiba-tiba terlihatlah sebidang kebun dengan gubug ditengah-tengahnya, bukan main girang hati Wiralodra, apalagi diluar gubug terlihat pemilik kebun sedang menyiangi rumput disekitarnya. “Assalamu’alaikum”, salam Wiralodra kepada Bagus Sidum “walaikumsalam”, sambut Bagus Sidum sambil mempersilahkan masuk kepada tamunya. Setelah saling mengenalkan diri, Bagus Sidum pun menghidangkan hasil kebunnya. Akhirnya Wiralodra pun bertanya : “Kek, saya ini tersesat, saya sedang mencari Muara Cimanuk, tetapi telah berbulan-bulan belum juga saya temukan. Tolonglah, Kek! Tunjukkan dimana letak Muara Cimanuk itu ?" “Mengapa jauh dari tanah Wetan mencari Muara Cimanuk?” jawab Bagus Sidum “Saya mendapat firasat, supaya mendirikan negeri di Muara Cimanuk, tetapi saya sendiri belum tahu tempat itu” “Begini saja, nak! Kamu pulang kembali ke arah selatan, apabila nanti menemukan seekor kijang, turuti kijang tersebut. Bila kijang hilang dari pandanganmu, disitulah Muara Cimanuk” kata Bagus Sidum Wiralodra gembira mendapat penjelasan tersebut, tetapi mengikuti kijang lari tentunya bukan pekerjaan ringan. Akhirnya berkatalah Wiralodra: ”Terima kasih, Kek! Saya permisi akan meneruskan perjalanan.” “Selamat jalan. Nak! Semoga Allah selalu melindungimu.” Demikianlah setelah beberapa tumbak Wiralodra berjalan, terlihatlah seekor kijang sedang merumput. Ketika kijang melihat Wiralodra, larilah kijang tersebut. Wiralodra tidak mensia-siakan kesempatan tersebut, secara kilat ia mengejarnya, karena takut kehilangan jejak. Tetapi, secepat-cepatnya manusia berlari, apalagi ditengah hutan sehingga Wiralodra tertinggal jauh. Anehnya, apabila Wiralodra tertinggal, sang kijang berhenti sambil merumput, seolah-olah menanti Wiralodra. Demikianlah akhirnya di suatu tempat, hilanglah kijang dari pandangan Wiralodra. Konon kabarnya yang terlihat kijang itu sebenarnya Bagus Sidum. Hanya pandangan Wiralodra yang melihat Bagus Sidum seperti kijang. Beberapa hari kemudian dari Pagirikan Bagus Sidum menuju arah tenggara, sampailah ke daerah suatu tempat (sekarang Loyang_red). Di hutan ini Bagus Sidum beristirahat serta membuka tegalan untuk dijadikan kebun. Loyang ketika itu masih hutan alam, hutan rimba yang penuh dengan binatang buas, daerahnya masih angker seolah-olah alam di sana bisa berkomunikasi dengan mahkluk disekitarnya. Salah ucap bisa menimbulkan malapetaka, bisa hujan mendadak, angin taufan, atau sang raja hutan datang mengganggu. Tetapi, Bagus Sidum orang yang berperasaan halus, derit bambu tertiup angin terdengar bagai seruling, deru angin sebagai gamelannya, siul burung seolah nyanyian yang merdu, aum harimau sebagai gongnya. Sehingga tak terasa lagi Bagus Sidum yang sedang duduk di bawah pohon kesambi pun turut bersenandung menyanyikan lagu “Dandang Gula”. Bagus Sidum tak gentar oleh ganasnya binatang buas atau angkernya alam rimba. Ia selalu ingat akan pesan ayahnya : “Engkau pergi tak seorang diri, tetapi Allah akan menyertaimu asal kamu taqwa dan ingat kepada_Nya.Binatang buas tak akan menggangumu, asal engkau tak berniat mengganggunya. Kalau engkau menyayangi hewan, hewan pun akan menyayangimu.” Sekian lama Bagus Sidum di alas Sinang tak mengira bahwa tempat itu ada empunya, ada pemiliknya. Sebab, disitulah tempat Natawana dan Jagawana pemilik Kerajaan Sinang, raja yang kena supatawali, karena lari mengasingkan diri takut masuk Islam. Natawana dan Jagawana bukan enggan masuk Islam, tetapi mereka takut disunat sebelum masuk Islam. Kehadiran Bagus Sidum di hutan Sinang menimbulkan hawa panas bagi penghuni hutan Sinang, sebab Bagus Sidum “ngagem” Keris Kiai Arab. Lagi pula Bagus Sidum orang yang selalu bertafakur. Tapanya tanpa batas, ia makan sekedar untuk hidup. Natawana dan Jagawana sadar, bahwa hawa panas ini bukan dikarenakan alam, tetapi ada penyebab lain, pandangannya tajam setajam bangsa siluman yang lain. Dari jauh terlihat bahwa di pohon kesambi duduk seorang manusia. Tentu saja Natawana dan Jagawana segera datang menghampirinya. Bagus Sidum waspada akan hadirnya Natawana dan Jagawana, sebab sejak semula terasa berbeda Alam Sinang ini. Tiba-tiba Natawana dan Jagawana datang sambil menggertak : “Hai manusia! Siapa namamu? Dari mana asalmu? Dan mengapa engkau berada disini?" Bagus Sidum sadar orang dihadapannya bukanlah manusia biasa, tetapi manusia yang sudah terpengaruh alam siluman, dia pun menjawab : "Namaku Sidum, berasal dari Padepokan Cisambeng, kedatanganku kesini sedang mencari pelarian, yang menyembunyikan diri di hutan ini. Tetapi, kedatanganku bukan akan menangkap kalian, tapi akan mengajak shalat berjamaah bersama saya”. Sejak semula Natawana dan Jagawana sudah berdiri bulu kuduknya, sekarang mereka mendengar seolah-olah Bagus Sidum sudah tahu rahasia dirinya, apalagi mau mengajak shalat. Bathin Natawana dan Jagawana kalah pengaruh, tiba-tiba mereka menjerit minta ampun. “Ampunilah kami, Bagus Sidum! Kami berdua berjanji akan tunduk kepadamu, kami ingin mengabdi kepadamu” pinta Jagawana dan Natawana "Baiklah janjimu saya terima, tetapi kamu harus mengikuti adat kebiasaan seperti semula.” jawab Bagus Sidum dengan bijaksana Dengan disanggupinya permintaan Bagus Sidum, maka sejak itu Bagus Sidum mempunyai pembantu yaitu Ki Natawana dan KiJagawana. Salah satu versi dari Sesepuh Sumber, setelah Natawana dan Jagawana menjadi kawula Bagus Sidum, namanya diganti menjadi Ki Baniyem dan Ki Juasih. Dari Hutan Sinang Bagus Sidum bersama Ki Natawana dan KiJagawana menuju daerah sebelah timur. Setelah Bagus Sidum bersama Ki Natawana dan Ki Jagawana setelah shalat duhur, Bagus Sidum berkata : “Waaah! Ki Natawana tongkat saya tertinggal." “Dimana tertinggalnya, Kiai?” tanya Ki Natawana “Coba saja cari, sanggup tidak!” ”Sanggup, Kiai!” Setelah itu Ki Natawana memejamkan matanya memanggil bekas rakyatnya yang ada di Sinang agar mengantarkan tongkat Kiai Sidum. Sekejap mata tongkat Kiai Sidum datang, seolah-olah berjalan sendiri, padahal dibawa oleh makhluk halus taklukan Ki Natawana. “Inilah tongkatnya, Kiai” kata Ki Natawana “Dimana tertinggalnya, Ki Natawana?” jawab Bagus sidum “Di Tegal Grumbiyang, Kiai." “Waaaaahh! Ki Natawana, Ki Jagawana akhir jaman di Tegal Grumbiyang akan ada pabrik” “Apa pabrik itu, Kiai?” “Ya nanti saja kita tunggu kamu pun kelak akan tahu” Setelah BagusSidum, Ki Natawana dan Ki Jagawana melepaskan lelah beberapa saat, mereka pun meneruskan perjalanan. Sampailah ke hutan jati (sekarang Danasari_red), di situ Bagus Sidum bermaksud bertapa, mendekatkan diri dengan Yang Maha Suci. Tetapi, tiba-tiba melihat pakaian Ki Natawana yang masih mengenakan pakaian kerajaan, sehingga Bagus Sidum pun berkata : “Ki Natawana, beberapa hari lagi kita sampai ke Cisambeng, pakaianmu harus disimpan di sini”Ki Natawana : “Bagaimana cara menyimpannya, Kiai?”Bagus Sidum: “Kuburkan saja di bawah pohon Tenggulun bersama-sama dengan payung dan pusakamu itu”Konon kabarnya pakaian kerajaan Ki Natawana beserta payung dan perkakas perangnya di kubur di bawah pohon Tenggulun.Bagus Sidum : “Sekarang saya akan istirahat, bersemi untuk mendekatkan diri kepada Gusti Yang Maha Suci, sebagai tanda syukur bahwa perjalananku selamat sampai ke daerah Cisambeng kembali”.Berbulan-bulan Bagus Sidum bersemedi, mendekatkan diri kehadirat Yang Maha Kuasa. Tetapi, lain halnya dengan Ki Natawana dan Ki Jagawana, mereka tidak membawa bekal, apalagi mereka bertugas menjaga junjungannya bukan untuk bertapa.Oleh karena itu, tentu saja buah-buahan disekitar hutan habisdimakan kedua pembantu Bagus Sidum itu, sedangkan buah-buahan ada musimnya sehingga akhirnya Ki Natawana dan Ki Jagawana harus menahan lapar juga.Berkatalah Ki Natawana : “Jagawana, bagaimana nasib kitaberdua? Sedangkan Kiai terlihatnyabelum ada tanda-tanda untuk menghentikan semedinya!”Ki Jagawana : “Ya! Tetapi, kita tidak berani membangunkan beliau”Ki Natawana : “Bagaimana kalau kita pura-pura berkelahi saja? Supaya menimbulkan Kegaduhan! Mudah-mudahan beliau merasa terganggudan bangun dari semedinya. Nantibila Kiai sudah bangun barulah kitajelaskan maksud yang sebenarnya!”Ki Jagawana : “Pendapatmu itu baik Ki Natawana, aku setuju!”Demikianlahakhirnya kedua panakawan itu pura-pura berkelahi. Masing-masing saling tentang menentang, saling tendang, dan saling pukul sehingga situasi menjadi gaduh. Pepohonan disekitarnya rusak olehulah kedua panakawan itu, perlahan-lahan Bagus Sidum pun bangun menghentikan semedinya.Berkatalah Bagus Sidum : “Hai … Natawana dan Jagawana! Sedang apa kalian ini? Mengapa dengan teman sendiri sampai mengadu tenaga?”Ki Natawana : “He .. he … he ..…Terima kasih! Kalau Kiai sudah bangun. Kami tidak benar-benar berkelahi, karena telah lama menunggu Kiai bersemedi Lihatlah! Buah-buahan telah habis kami makan”Bagus Sidum : “Jadi, sekarang bagaimana kehendak kalian ?”Ki Jagawana : “Sebelum pulang ke Cisambeng, hamba ingin makan nasi dahulu, Kiai! Saya sudah lama tidak menikmati nasi putih dengan ayam panggang”Bagus Sidum : “Aneh sekali kamu ini, Jagawana! Ditengah-tengah hutan yang sunyi ini minta makan! Darimana kita mendapatkan nasi?”Ki Jagawana : “Kalau Kiai pergi ke kesultanan tentu akan membawa oleh-oleh dari Kota Praja, sekarang Kiai baru bangun bertapatentu ada oleh- olehnya”Bagus Sidum : “Kamu ini selalu mendesak saja kalau mempunyai kehendak. Baiklah, coba pejamkan mata kalian sebentar!”Kedua panakawan memejamkan kedua mata mereka. Bagus Sidum memohon ridho Allahagar terkabul permintaannya, kemudian ibu jari bagus Sidum mencukil tanah, dan tanah tersebutdigenggam serta diletakkan di bawah pohon bersama-sama dengan beberapa kulit kayu jati.Bagus Sidum : “Sudah Ki Natawana dan Ki Jagawana buka matamu, itu nasi dan ayam panggang untukmu”Betapa terkejutKi Natawana dan Ki Jagawana, melihat nasi putih yang masih mengepul berasap serta ayam panggang yang masih hangat. Tanpa berkata lagi keduanya melalap santapan yang masih hangat itu. Tiba-tiba, Ki Natawana timbul kesangsian akan kebenaran nasi tersebut. Maka, disembunyikanlah sebagian nasi dan ikan ayam bagiannya. Betapa terkejut hati Ki Natawana, setelah membuka sisa nasi yang disembunyikannya itu berubah menjadi tanah dan ranting kembali.Tetapi, karena Ki Natawana merasahaus, maka kejadian itu tidak mengganggu pikirannya.Ki Natawana : “Kiai, kami berdua sudah kenyang, hanya akan minum airnya tidak ada !”Bagus Sidum : “Tentu saja, Ki Natawana! Sebab sekarang musim kemarau, ada air darimana?”Ki Jagawana : “Waaaahh! Kalau tadi saya hampir mati kelaparan, sekarang mungkin akan mati kehausan”Bagus Sidum : “Sudahlah, kalian lihat daun apa ini?”Ki Natawana : “Daun alang-alang, Kiai!“Bagus Sidum : “Daun ini akan saya lemparkan, dan kita harus memgikuti jalannya daun ini!”Bagus Sidum melemparkan daun alang-alang tersebut, ajaib! Daun alang-alang meluncur ke arah selatan, serta mereka bertiga mengikuti lajunya daun tersebut dari belakang. Kira-kira 10 tumbak daun itu jatuh.Bagus Sidum : “Nah! Natawana daun itu telah jatuh”Ki Jagawana : “Lalu, bagaimana Kiai?”Bagus Sidum menghunus cis (keris kecil) ditujukan ke arah daun alang-alang itu jatuh, sambil berkata : “Naaah, Ki Jagawana dan Ki Natawana. Galilah tanah ini dengan tanganmu!”Ki Natawana : “Bagaimana menggalinya, Kiai? Tanah sekeras ini harus digali dengan jari!”Bagus Sidum : “Coba saja dahulu, tanah itu tidak akan keras”Akhirnya Ki Natawana dan Ki Jagawana menusukkan kedua tangannya ke dalam tanah. Betapa terkejutnya hati kedua panakawan itu. Sebab, begitu tanah diangkat, tiba-tiba memancarlah air dari dalamnya. Bukan main girangnya hati Ki Natawana dan Ki Jagawana. Mereka minum dan mandi sepuas-puasnya. Bagus Sidum pun menciduk air serta merasainya. Sambil berkata : ”Sejuk benar air ini, seperti air sewindu”Ki Jagawana : “Air apa, Kiai?”Bagus Sidum : “Air sewindu. Nah! Ki Natawana dan KiJagawana, tempat ini kelak akan menjadi desa, dan sumur ini banyak dikunjungi orang, dan anak cucuku akan tinggal di sini!”Demikianlah kisah Bagus Sidum berkelana, Sumur Sindu mulai terjadi. Bagus Sidum, Ki Natawana, dan Ki Jagawana meneruskan perjalanan ke CisambengSetelah Bagus Sidum mendapat restu dari ayahnya tentang perkawinannya dengan putri Pangeran Sabakingking. Bagus Sidum pun pergi ke Banten menjemput istrinya.Di setiap daerah banyak kita jumpai “petilasan” Bagus Sidum. Itulah tempat beliau mengembara dahulu.

Wednesday, 13 January 2016

ADAT NGAROT WARISAN URANG SUNDA ?


Kalau mendengar penjabaran tentang adat Ngarot sampai sekarang masih ada uneg-uneg yang mengganggu pikiran saya, apalagi kalau baca di internet, saya kira banyak yang diluar pemahaman yang utuh.
Sebenarnya Ngarot itu tidak hanya ada di Lelea tapi juga ada didesa-desa sekitarnya bahkan dulu sampai ke wilayah Terisi sana.
Ngarot juga ada di daerah Jatigede Sumedang, bahkan mungkin aslinya Ngarot ada disana dan nenek moyang impor dari sana.
Ngarot itu sama seperti adat Sedekah Bumi atau Nadranan Laut untuk nelayan.
Ngarot kemungkinan berasal dari bahasa sunda : ngaruat.
Diucapkan oleh orang kita jadi Ngarot. Seperti sekarang saja kata 'Ngabari' jadi 'ngabori.'
Definisi Ngaruat adalah membersihkan segala sesuatu untuk keselamatan. Karena ngaruat atau ngarot dilaksanakan tingkat kampung/desa maka Ngaruat atau ngarot berdefinisi acara untuk keselamatan warga dalam segala hal misal bercocok tanam dan tolak bala bencana lainnya. Makanya diperlukan simbol-simbol tertentu misal lahan garapan, bunga, tarian topeng/terbang, alat pertanian, kepala kerbau dan sebagainya.
Kenapa adat ini dilaksanakan pada awal.musim tanam setelah musim kemarau ?
Karena dulu jika kita gagal panen maka bencana akan mengancam warga, misal kelaparan dan tidak adanya alat barter.
Kenapa pemuda-pemudi yang menjadi peserta ? Karena mereka memiliki tenaga yang kuat sekaligus generasi penerus untuk menggarap lahan pertanian, mereka harus belajar bercocoktanam, karena mereka masih muda mereka juga harus menikah disamping demi kemuliaan mereka sekaligus menambah tali persaudaraan diantara warga.
Dalam perkembangannya Ngarot dikotori mabuk-mabukan dan prostitusi oleh pengunjung adat dari luar desa. Itulah alasan kemudian beberapa desa menghilangkan acara ngarot seperti desa Cikedung.
Ada yang mengisahkan bahwa Ngarot berasal dari sejarah ki Tapol di Lelea, dan desa lain seperti Tamansari, Tunggulpayung dan Jambak dulunya dianggap bagian dari Lelea sehingga desa-desa itu dianggap ikut-ikutan, yang menjadi pertanyaan kenapa di Sumedang juga ada Ngarot ?
Bukankah dari abad 16 M Lelea adalah bagian dari sumedanglarang ?
Bukankah Jambak dan Tunggulpayung jauh dari desa Lelea dan bagian dari Sumedanglarang juga ?
Saya juga pernah baca kalau gak salah buku berjilid hitam tentang sejarah indramayu, saya lupa halamannya yang saya ingat ada salah satu halaman yang membahas Ngarot, disana ditulis Ngarot adalah pesta minum arak, pesta mabuk anak muda, mungkin dari sini awal pemahaman Ngarot jadi samar bahkan kacau, mengacaukan pesan moral para leluhur/local wisdom, padahal kalau mau jujur tanyalah pada orang sunda apakah mabuk itu bahasa sundanya : ngarot ?
Perkembangan sekarang lebih parah lagi dimana Ngarot adalah perlambang eksotiknya perempuan Indramayu, generasi kedepan dikhawatirkan mengenal ngarot sebatas mabuk dan perempuan cantik......
Sedihnya jika mencoba menelusuri sejarah atau menanyakan asal-usul sesuatu pasti dibenturkan pada kata 'pamali' dan 'tabu'. Entah apakah karena 'peteng', tidak tahu, atau memang cuma 'karangan' sang kuncen atau juru adat.
Padahal jika adat budaya itu warisan yang keramat semestinya dijaga keaslian dan dilestarikan pesan moral/local wisdom yang tersurat atau tersirat didalamnya, kenali budaya seutuhnya jangan sepenggal atu dipenggal, demi tujuan tertentu.
Semoga bermanfaat.

ADAT NGAROT DI DESA JATISURA KECAMATAN CIKEDUNG



Desa Jatisura Kecamatan Cikedung yang terkenal dengan Situ Bolang-nya tahun 2015 kembali menghidupkan  adat Ngarot yang sempat vakum beberapa tahun.


Peserta Adat Ngarot Desa Jatisura

Friday, 27 November 2015

ASAL-USUL DESA KAPRINGAN KEC KRANGKENG



Dalam perjalanan pertapaan pangeran pringgabaya ke tanah Indramayu tepatnya di desa SURTA JAYA (sekarang kapringan) dia pangeran pringgabaya bertemu seorang bidadari yang lagi mencari selendang kencana (sekarang masih ada di dalam makam daya lautan) 
Kata bidadari "barang siapa yang menemukan selendang saya kalo yg laki2 muda saya akan aku jadikan suamiku kalo laki2 tua saya akan aku jadikan bapaku, kalo perempuan muda saya akan aku jadikan adik kandungku kalo wanita tua saya akan aku jadikan ibu kandungku, dgn ucapan seperti itu terdengarlah oleh pangeran pringgabaya, lama kemudian DEWI TALA (bidadari) telah mengandung dalam kandungan 7 bulan pangeran pringga baya berpamitan meninggalkan istrinya yg lagi mengandung sampai istrinya melahirkan pun pangeran pringgabaya tak kunjung datang lama kemudian dewi tala melahirkan seorang laki2 yang tampan setelah melahirkan dewi tala pergi kekhayangan lagi menyuru macan putih dan wewe putih untuk menjaga anaknya yg masih dalam ke adaan menyusui di atas ayunan pohon cempa (sekarang masih ada pohonnya) sampai sakit yg di derita sang beliau yg di temanin sama wewe putih dan macan putih ada angin laut yang mampuh menyembuhkan beliau sampai sehat kembali dan beliau pun di namakan oleh wewe putih dengan nama DAYA LAUTAN, sampai umur 15 tahun beliau berani berkata sama wewe putih dan macan putih tentang siapa ibu dan bapaknya "eyang siapakah ayah dan ibu saya eyang, wewe putih tak bsa menahan beliau yg ingin bertemu sama ayah dan ibunya akhirnya dgn berat hati sang wewe putih membukakan siapa aya dan ibunya "cung ayah kamu ada di cirebon dan ibu kamu ada di khayangan, ibu kamu adalah seorang bidadari dan aya kamu adalah seorang tangan kanannya SUNAN GUNUNG JATI cari lah ayahmu di cirebon namanya pangeran pringgabaya, lama mencari akhirnya bertemu juga,
pangeran daya lautan" RAMAH,
pangeran pringgabaya" siapa kau anak muda
pangeran daya lautan" aku ramah anakmu daya lautan dari desa surga jaya,
pangeran pringgabaya" maaf anak muda saya tidak pernah mempunyai anak bernama daya lautan,

pangeran daya lautan" jadi rama tidak mengakui aku sebagai anak ramah,
pangeran pringgabaya" iya karna aku tidak mempunyai anak bernama daya lautan dari surga jaya
pangeran daya lautan" ramah, apa ramah dulu tidak ingat kalo rama adalah suami dari seorang bidadari yg bernama nyi dewi tala dan rama meninggalkan kanjeng ibu di hutan surga jaya bersama wewe putih dan macan putih,
karna keterangan dari pangeran daya lautan pangeran pringgabaya terus menerus tidak mengakui dia adalah anaknya karna takut pangeran pringgabaya mendapatkan malu dari istri pertamanya,
istri pertama" kang mas kalo emang dia adalah anak kandung kang mas kenapa kang mas tidak mengakuinya saja aku sebagai istri kang mas akan menerima dia sebagai anak kandung aku sendiri kang mas,
pangeran pringgabaya" tapi nyi mas aku tidak mempunyai anak bernama daya lautan,
istry pertama" kang mas, apa kang mas tidak mengerti apa yang dia tadi bicarakan, sudahlah kang mas akui saja dia sebagai anak kang mas,
pangeran pringgabaya" baiklah nyi mas kalo ini keinginan kamu, akan aku turutin permintaan kamu,
tiba-tiba pangeran pringgabaya memanggil pangeran daya lautan di luar rumah yg sedang menunggu pengakuan dari sang ramahnya,
pangeran pringgabaya" hai,,,,,,,, anak muda kalo bener kau adalah anak saya bisakah kau membuktikan apa yang kamu punya,
pangeran daya lautan" maaf ramah aku tidak mempunyai apa-apa ramah aku datang kesini aku cuma ingin pengakuan dari ramah bhawa aku adalah anak ramah,
pangeran pringgabaya" baiklah ramahmu mendapatkan musuh dari galu karna itu kalo kamu menang ramah akan mengakui kamu adalah anak rama,
terbengonglah pangeran pringgabaya atas permintaan sang ramahnya dan tak lama kemudian berkata lah pangeran daya lautan di dalam hatinya, kalo aku tidak bsa memusnahkan kerajaan galu aku tidak bisa di anggap aku sebagai anaknya dan kalo aku mati juga aku tidak bisa bertemu sama ramahku, tidak pikir panjang pangeran daya lautan menerima tantangan dari sang ramahnya,
pangeran daya lautan" sendikoh ramah saya siap menerima tantangan dari ramah,
pangeran pringgabaya" baiklah, jalankan tugas dari ramahmu ini cung semoga kamu berhasil mengalahkan kerton galu,
perjalanan menuju keraton galu yg telah di lalui dengan ketabahan dari pangeran pringgabaya untuk memusnahkan padepokan galu, akhirnya pangeran daya lautan sampailah di tempat yg iya tujuh,
pangeran daya lautan" haiy prabu galu (lupa namanya)
prabu galu" iya anak muda, ada apa kau berani datang kesini anak muda,
pangeran daya lautan" saya dari utusan cirebon ingin menantang kesaktian kau prabu galu,
parbu galu" percuma saja kau menantang ke saktian saya karna kamu masih bau kencur yg belum tau apa-apa anak muda, lebih baik kau kembali lagi ke utusan kamu dari pada kamu pulang dengan namanya, aku masih bisa memaafkan kata-katamu yg kotor seperti tadi anak muda,
pangeran daya lautan" jangan sesumbar prabu galu kita buktikan dulu kakek tua,

dengan perkataan pangeran daya lautan berhasil memancing amarahnya prabu galu, terjadilah peperangan dalam kurun 1 hari,

prabu galu" ayo anak muda mana kesaktian kamu,
tak lama kemudian datanglah seorang bidadari yg cantik jelita dialah ibu dari pangeran daya lautan,
dewi tala" cung dia bukan lawanmu yg sepadan apa lagi kamu belum mempunyai apa-apa,
pangeran daya lautan" tapi kanjeng ibu, saya pengen dapat pengakuan dari sang ramah kanjeng ibu,
dewi tala" bangunlah cung, dan pakai lah pusaka KONDE SI LEMPED ini,
pangeran daya lautan" baiklah kanjeng ibu,
peperangan yg kedua terjadi seperti dulu dan kemenangan telah berpihak kepada pangeran daya lautan,
sesampai di cirebon dia menyampaikan ke berhasilannya kepada pangeran pringgabaya,
terbengonglah mata pangeran pringgabaya melihat di atas rambutnya ada KONDE SI LEMPED kalo iya adalah anaknya sesungguhnya dan menyesal lah perbuatan yg pernah dia perbuat terhadap anaknya, ampir saja anaknya mati oleh prabu galu kalo tidak ada konde si lemped, tak lama kemudian pangeran pringgabaya mengutus anaknya untuk mengurus pedukuhan surga jaya dan pulanglah pangeran daya lautan dengan hati gembira karna sudah dapat pengakuan sang ramahnya,
sesampainya di desa surga jaya, pangeran daya lautan mengubah nama desa itu dengan nama sang ramahnya PRINGGABAYA menjadi KAPRINGAN.

Sumber : http://eyoswd.blogspot.com

Cerita Rakyat :Kisah Prabu Geusan Ulun dan Nyi Mas Ratu Harisbaya

Cerita rakyat ini bukan mengorek luka lama atau menumbuhkan rasa kepiluan dalam hati para pembaca tapi cerita iini sebagai kaca benggala kehidupan kita dalam segala hal. Cerita rakyat ini hanya sebuah cerita verbal yang tidak ada muatan sejarah yang otentik dan dipertanggungjawabkan.

Selamat membaca dan ambil hal yang positif dari pesan yang tersirat :

Tanpa mengenal lelah dan sepertinya menikmati peperangan tersebut, kedua orang patih tersebut kelihatan santai dan bernyanyi kecil dalam setiap pertempuran. Tetapi sebaliknya Kanjeng Sunan Gunung Jati, Sultan Maulana Hasanudin, Sultan Patang Aji, Raden Kilab dan panglima perang kerajaan Demak tampak makin kebingungan untuk mencari cara mengatasi kehebatan kedua orang patih Sumedang Larang tersebut. 

Tampak sekali raut wajah putus asa diantara mereka.Untuk sementara perang dihentikan dan Kanjeng Sunan beserta keluarga kerajaan mencari cara, taktik dan strategi melawan kesaktian Patih Jaya Perkasa dan Terong Peot. Akhirnya diputuskan untuk meminta nasehat kepada Mbah Walang Sungsang Cakrabuana (mantan Sultan Cirebon yang kini menjadi pendeta).
” Sampurasun “
” Rampes. Ada apakah gerangan yang membuat kalian datang ke tempat saya. “
” Begini Eyang, maafkan kami atas kelancangan bicara dan perbuatan kami selama ini. Kami meminta saran kepada Eyang. Mungkin saja Eyang bisa memberikan solusi buat kami. “
” Pasti ini masalah pertentangan kalian dengan Sumedang Larang. Hahahahahaahaha sungguh salah kalian datang kemari untuk meminta pendapat kepada Eyang. Saat ini hidup Eyang sudah tenang dan tidak mau diganggu oleh kehidupan dunia yang fana, penuh kebencian dan cara-cara yang kotor “
” Eyang, yang kami lakukan adalah kebenaran dan itu menjadi hak kami untuk memintanya “:
” Kebenaran ? Hahahahahahahaha “
” Tolonglah kami Eyang, sudah banyak pasukan kami yang terbunuh oleh 2 orang Patih kerajaan Sumedang Larang yang sakti tersebut “
” Apa ? Hanya dengan 2 orang Patih saja, Sumedang Larang dapat mengalahkan kalian hahahahaha. Sungguh hebat Jaya Perkasa dan Terong Peot. Tidak salah mereka menjadi Patih Abadi yang terpercaya oleh Prabu Munding Wangi, Kakek Buyut Kalian sendiri hahahahahaha. “
” Ternyata Eyang tahu mereka berdua ? “
” Sungguh bodoh pertanyaan kalian hahahahaahahaha jelas mengertilah Eyang dengan mereka dan mereka adalah saudara sejati Eyang hahahahahahaha “
” Tapi Eyang, kami khan anak cucu Eyang yang sebenarnya. Tolonglah beritahu kami bagaimana caranya menghadapi kesaktian mereka “
” Tahukah kalian bahwa sesungguhnya kalian itu semuanya bersaudara. Kerajaan Cirebon dan Sumedang Larang sama-sama keturunan Pajajaran. Untuk apa kalian harus berperang cuma gara-gara seorang perempuan yang telah gelap karena nafsu setan yang menyelimutinya sehingga membabi buta cintanya. Karena perempuan itu pula, Kanjeng Sunan telah berbuat khilaf sehingga menikahinya tanpa pernah menanyakan keikhlasan cinta perempuan tersebut. Sungguh ironis hahahahahahahaha “
” Kami mohon maaf Eyang atas kekhilafan kami tapi tolonglah bantu kami anak cucu Eyang sendiri. “
” Baiklah, bagaimanapun kalian adalah anak cucu Eyang, begitu pula Geusan Ulun masih cucu Eyang juga tapi ingat cukup sekali ini saja terjadinya perang saudara di tanah pasundan dan tidak boleh ada lagi. “
” Kami mendengar dan patuh menjalankan perintah Eyang “
” Raden Kilab, segeralah kamu pergi ke Indramayu dan temui Siluman Endang Darma . Katakan ini perintah saya dan dia sudah tahu apa yang harus dilakukan “
” Baik Eyang “
” Sultan Patang Aji segera temui Ki Batu Tameng di Turusmi dan perintahkan dia untuk melawan Patih Jaya Perkasa “
” Siap Eyang “
” Anakku Sunan Gunung Jati, kau ambil pusaka Wila Lodra di dalam kamar pusaka. Kemudian kau bacakan mantra ini maka dia akan berubah wujud menjadi seorang manusia dan katakan kepadanya untuk bertarung melawan Terong Peot. Katakan ini perintah dari saya “
” Baik dan laksanakan “
” Segeralah kalian pergi dan ingat jangan kalian bunuh rakyat jelata yang tidak tahu menahu tentang urusan kalian terutama rakyat Sumedang Larang. Lindungi mereka dan jaga alam sekitar. Silakan kalian dipersilakan pergi karena saya mau meditasi lagi “
” Sampurasun ”
” Rampes “
Segeralah Kanjeng Sunan melakukan rapat mendadal dan dikumpulkan semua anggota keluarga dan panglima perangnya. Disamping itu berkumpul juga Endang Darma, Wila Lodra dan Ki Batu Tameng. Ketiga makhluk jelmaan tersebut hanya diam dan mendengarkan penjelasan Kanjeng Sunan.
” Ki Batu Tameng, saya perintahkan untuk bertarung dengan Patih Jaya Perkasa “
” Heheheheehe sudah lama saya tidak bertemu raksasa itu hehehehe siap Kanjeng Sunan “
” Wila Lodra, kau bertarung melawan Patih Terong Peot “
” Hmmmm masih hidup saja si tua bangka peot hmmmmm “
” Trus Endang Darma….. “
” Biarkan kami bertiga yang bertindak dan kalian tidak usah berperang. Tunggu aba-aba dari kami bertiga. Sementara kedua orang Patih sibuk berperang maka saya akan memancing Prabu Geusan Ulun turun dari Dayeuh Luhur. Saya akan berubah menjadi seorang perempuan cantik yang sedang berlayar sendirian di sungai Cimanuk. Pasti Gueusan Ulun akan terpincut dan mati di tangan saya. Ini senjata yang sudah saya persiapkan untuk meladeni kesaktian Geusan Ulun. Dengan ini pasti mati dia hahahahaha “
” Baiklah kalau kalian sudah mengerti apa yang seharus dilakukan. Kapan akan dilaksanakan “
” Besok pagi Kanjeng “
” Bagus “
Keesokan paginya dengan jalan beriringan Ki Batu Tameng dan Wila Lodra mencoba menyelinap masuk ke wilayah Sumedang Larang.
” Hei Ki Batu Tameng dan Wila Lodra, mau apa kamu masuk ke wilayah kami hahahahahahaha “
” Ehhhh Jaya Perkasa, tahu saja kalau kami masuk diam-diam “
” Ya tahulah kami akan kedatangan kalian. Dari baunya kami tahu bahwa kalian telah datang hehehe “
” Terong Peot memang sakti hahahahahaha “
” Pasti kalian disuruh Walang Sungsang Cakrabuana, mengapa orang tua satu itu ikut campur urusan sepele ini hahahaahaha “
” Bukan ikut campur, cuma meminta kalian menyerahkan Nyi Mas Ratu Harisbaya, isteri sah Kanjeng Sunan yang dibawa kabur oleh Geusun Ulun “
” Kata siapa, justru kami ingin mengembalikan perempuan durjana tersebut kepada kalian. Gara-gara dia Raja kami mendapatkan masalah. Satu lagi kenapa kurir kami kalian bunuh “
” Ahhh itu bisa-bisanya Geusan Ulun Serbuuuuuuu “
Terjadilah pertarungan yang seru antara Jaya Perkasa melawan Ki Batu Tameng. Sementara Terong Peot melawan Wila Lodra. Pertarungan yang seimbang, hari berganti hari, siang berganti malam sampai berminggu-minggu pertarungan dua pasang petarung berlangsung dan tidak ada yang kalah maupun yang menang serta todak mengenal lelah.
Nah saat kedua orang patih berkonsentrasi melawan kedua makhluk jelmaan tadi maka secara diam-diam Siluman Endang Darma menjalankan siasatnya yaitu berubah wujud menjadi seorang perempuan cantik dengan nama Endang Ciptawati (ciptaan siluman) dan pura-pura berlayar di tengah-tengah sungai Cimanuk yang besar, dalam dan deras arusnya. Ini dilakukan untuk menarik perhatian Prabu Geusan Ulun yanhg berada di Dayeuh Luhur, sebuah bukit yang tinggi dan tempat ini aliran sungai Cimanuk jelas kelihatan.
Benar saja, Prabu Geusan Ulun tanpa sengaja melihat seorang perempuan cantik berlayar sendirian di sungai dalam nan deras dan sepertinya perempuan tersebut tampak ketakutan. Segeralah Prabu Geusan Ulun menuruni bukit dan langsung berenang ke sungai untuk menolong perempuan cantik tersebut. Dinaikilah perahu tersebut dan diarahkan ke pinggir sungai. Dalam pergerakan menuju pinggir sungai, perempuan tersebut mengaku bernama Endang Ciptawati dan ingin pulang ke rumahnya yang berada beberapa kilometer dari arus deras tersebut.
Akhirnya Prabu Geusan Ulun menawarkan dirinya untuk mengantarkan sampai ke pinggir sungai dekat dengan rumah perempuan tersebut. Baru saja duduk untuk mendayung perahu tersebut, tiba-tiba dari belakang perempuan jelmaan itu mengayunkan senjata pamungkas yang menjadi kelemahan Prabu Geusan Ulun ke arah leher. Dan terpenggallah kepala Prabu Geusan Ulun dari tubuhnya. Kepalanya dibiarkan hanyut di sungai.
Sementara itu, pertarungan 2 orang sakti dan 2 orang jelmaan terus berlangsung. Karena sudah bosan bertarung maka diputuskan untuk gencatan senjata dahulu. Kesempatan inilah yang dipakai oleh Patih Jaya Perkasa menemui Prabu Geusan Ulun. Sesampainya di Dayeuh Luhur, Jaya Perkasa tidak menemui rajanya. Setelah melihat sekeliling akhirnya matanya tertuju ke[ada potongan kepala yang mengambang di sungai. Segeralah Jaya Perkasa menghampirinya.
Betapa terkejut dan sedihnya Jaya Perkasa setelah melihat potongan kepala tersebut yang ternyata adalah potingan kepala Prabu Geusan Ulun.
” Kurang ajar Kau Endang Darma, akan kubalas suatu saat nanti. Lihat saja suatu saat nanti akan kutenggelamkan kerajaan siluman dan keturunanmu di Indramayu. Tunggu saja pembalasanku. “
Mendengar teriakan Jaya Perkasa, segera diikuti oleh Terong Peot, Konang Hapa dan Sanghyang Hawu (keduanya keluar dari hutan) meratapi kesedihan yang mendalam ditinggal oleh raja yang sangat dimuliakan dan dicintainya.
Tanpa banyak bicara dan tampak marah Jaya Perkasa langsung menuju tempat persembunyian Nyi Mas Ratu Harisbaya. Ditariknya rambut Nyi Mas Ratu Harisbaya keluar dan dikeluarkanlah pedangnya.
” Gara-gara kau perempuan durjana, rajaku mati sia-sia. Ini pembalasanku…..jrottttttttt “
Dipenggallah leher Nyi Mas Ratu Harisbaya dan langsung dibawa kepalanya ke Dayeuh Luhur. Rupanya disana telah berkumpul 3 orang Patih lainnya dan disepakati untuk dikubur kedua kepala dalam makam yang berbeda dan saling bersebelahan.
Kemudian Patih Jaya Perkasa mengumpulkan Terong Peot, Konang Hapa dan Sanghyang Hawu.
” Mulai hari ini saya mengundurkan diri dari jabatan patih Sumedang Larang. Saya mengharapkan kalian melakukan hal yang sama tapi itu saya serahkan kepada kalian “
” Kami bertiga akan turut perintah Kakanda “
” Bagus kalau begitu. Raja telah wafat dan saatnya saya mau menghilang. Jangan sekali-kali mencari saya tetapi saya akan muncul dengan sendirinya apabila raja memerintahkan untuk berkumpul di suatu hari nanti, Saya akan muncul dalam wujud 40 tapi hanya satu yang benar. Saya akan selalu melindungi turunan Tetesan Wisnu Trahing Kusumah Dewa Kemanusiaan dan pasti akan muncul untuk berperang demi turunan tersebut. Tapi ingat jangan sekali-kali membawa keturunan Nyi Mas Ratu Harisbaya ke Dayeuh Luhur kalau tidak ingin terjadi apa-apa. Ingat itu, saya akan pergi “
Ditancapkannya tongkat Jaya Perkasa yang setinggi pohon kelapa itu. Dari tancapannya tersebut keluar tujuh sumur, yaitu Ciasihan/Ciginasihan, Cikajayan, Cikahuripan, Cikawedukan, Ciderma, Ciseger/Menceger, dan Cipaingan; yang berdekatan satu sama lain. Kemudian Jaya Perkasa langsung lompat ke jurang dan menghilang. Tapi saat lompat ternyata banyak pusaka Jaya Perkasa yang beterbangan kemana-mana. Misalnya Pedang yang dipakai untuk memenggal Nyi Mas Ratu Harisbaya tersebut terlempar dan tertancap di depan mesjid agung Karawang, tasbih yang biasa dipakai untuk berzikirnya terlempar ke Medang Asem Karawang dan masih banyak lagi.
Sepeninggalnya Jaya Perkasa diikuti oleh menghilangnya Terong Peot, Konang Hapa, dan Sanghyang Hawu. Dan sampai sekarang tidak ada yang mengetahui apakah keempat patih tersebut telah meninggal dunia atau menghilang tanpa jejak. Belum ada yang mengetahui dimana makam-makam mereka yang ada hanya petilasannya saja
Sejak saat itulah kerajaan Sumedang Larang dikuasai oleh Kerajaan Cirebon tapi Kanjeng Sunan menyesali apa yang telah terjadi selama ini. Sudah banyak orang yang telah kehilangan nyawanya demi sebuah nafsu dalam balutan cinta buta.

Sumber : http://bumiku-merdeka.blogspot.com

Popular Posts

Total Pengunjung Blog ini :